Rabu, 24 Februari 2016

WALHI NTT SELENGGARAKAN DISKUSI PANEL PADA PDLH V


Mengawali kegiatan Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) V, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah NTT melakukan Diskusi Panel yang dihadiri oleh Paulus Nong Susar (Wabup Sikka), Rio Rompas (Direktur Walhi Kalteng, Calon Eksekutif Nasional), John Bala (Mantan Direktur PBH Nusra dan Direktur Ba'Pikir). Kegiatan Panel ini dimoderatori oleh Herry Naif, mantan Direktur WALHI NTT. Kegiatan ini dilakukan di Pusat Sekolah Lapangan (PUSKOLAP) Jiro-Jaro - WTM (16-19/02).
Paulus Nong Susar (Wabup) Sikka yang menyajikan tentang Responsivitas Kebijakan Daerah dalam "Menyikapi Problem-Problem Lingkungan Hidup di NTT dan Sikka" itu bahwa Pemerintah Kabupaten Sikka dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sikka lingkungan hidup menjadi sebuah pertimbangan. Bahwa, pembangunan harus berperspektif dalam penyelematan lingkungan hidup. Karena itu beberapa kasus kami cukup tegas. Misalnya pada masa kami, diupayakan Ijin Usaha Pertambangan saya jamin tidak ada. Sekarang kami sedang membangun waduk Napung Gete, dan pertimbangan lingkungan diutamakan, demikian tutur mantan direktur Sanres. 
Bagaimana sikap Pemkab Sikka mengenai perencanaan pertambangan emas Liakutu yang sudah pada tahapan eksplorasi. Beliau mengutarakan bahwa pertambangan tidak masuk dalam perencanaan Pemkab Sikka yang ada itu mendorong Sikka menjadi daerah wisata dan pertanian.
Sedangkan, John Bala, Direktur Ba'Pikir tentang Gerakan Rakyat dan Ham dalam Korelasi dengan Penyelamatan Lingkungan Hidup mengatakan bahwa konsep gerakan yang dipikirkan itu apa? Karena berbicara tentang Gerakan adalah sesuatu yang luar biasa. Namun di sini saya mencoba untuk melihat mengenai pengalaman-pengalaman yang saya lakukan bersama LBH Nusra selama saya ada di sana terutama dalam perjuangan bersama masyarakat adat untuk bagaimana mereka ikut mengaskes dalam kawasan hutan. Karena prinsipnya rakyat adalah subjek pengelola yang bisa menjaga hutan dan hidup dari hutan. Tanpa itu, maka konflik sosial akan pengelolaan hutan terus terjadi. John mengulas panjang lebar soal 13 institusi lokal pengelolaan hutan dalam perspektif masyarakat adat sikka, misalnya soal opidun kare dunan, opi dun kare taden, lian puan wair matan. Benar ada beberapa konsep seperti kawasan untuk wc umum dari sebuah kampung. Karena sekarang setiap keluarga punya Wc sendiri.
Sedangkan Rio Rompas (Direktur WALHI Kalteng, Calon Direktur Eksekutif Nasional) membicarakan tentang Potret Pengelolaan Sumber Daya Alam dalam Pespektif Nasional dan Apa yang Hendak Dicapai dalam Kepemimpinan Walhi ke depan. Mengawali pembicaraaannya, Rio menceritakan pengalaman advokasi soal kebakaran hutan dan asap di Kalimantan Tengah yang terjadi tahun ini. Ia melihat bahwa ini adaalah strategi korporasi untuk menguasai lahan-lahan agar kemudian dibuka perkebunan sawit dan tambang. Untuk itu, pengelolaan sumber daya alam perlu dipertegas akses dan kontrol rakyat agar kedaulatan itu ada pada rakyat dan negara. 



WALHI NTT SELENGGARAKAN PDLH V

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah NTT menyelenggarakan  Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) V sebagai momentum refleksi bersama, Eksekutif Daerah, Dewan Daerah dan Anggota atas perjalanan Walhi selama satu masa periodik kepemimpinan. Kegiatan PDLH ini dilakukan Walhi NTT di Puskolap Jiro Jaro, Tana li (16-19/02). Dalam pembukaan itu, Herry Naif, Direktur Walhi NTT (2011-2016) mengatakan bahwa selama 4 tahun kepemimpinannya banyak tantangan dan badai yang dialami itu sebagai cambuk untuk terus menghantar Walhi NTT menuju yang lebih baik. Bahwa Walhi NTT yang selama ini beredar di Kabupaten, selama periode ini telah diletakan di Kota Kupang sebagai propinsi. Diharapkan tidak berpindahnya Walhi NTT dari kabupaten atau pulau ini semakin menguatkan walhi dalam kerja-kerja advokasinya. Cukup periode saya yang mengalami banyak hal negatif, tukasnya.

Sedangkan Winfridus Keupung, Ketua Dewan Daerah dalam sambutannya mengucapkan terima kasih kepada Eksekutif Daerah periode ini dalam keterbatasannya telah meletakan nilai-nilai advokasi. Dengan dasar ini, kita berharap kepemimpinan Walhi NTT ke depan akan lebih baik. Sedangkan, De Sineba yang mewakili Dewan Nasional mengucapkan selamat ber-PDLH bagi Walhi NTT dengan membuka acara tersebut.

Kegiatan PDLH diawali dengan pembahasan tata tertib, yang dipimpin oleh Win Keupung dan Rafael Raga. Setelah itu dilanjutkan dengan Diskusi "Mempertegas Akses dan Kontrol Rakyat terhadap Pengelolaan Sumber Daya Alam di NTT" dengan 4 panelis yakni: Rio Rompas, calon Eksekutif Nasional (Pengelolaan Sumber daya alam yang berpihak pada Rakyat dan Lingkungan Hidup), Paulus Nong Susar (Wabup Sikka) tentang Responsivitas kebijakan negara dalam mengatasi problem-problem lingkungan yang ada di NTT dan SIkka, John Bala, Aktifis HAM, Mantan Direktur PBH Nusra mengulas mengenai Gerakan Rakyat dan HAM dalam korelasinya dengan penyelamatan Lingkungan Hidup. Diskusi panel ini yang dimoderatori oleh Herry Naif (Direktur WALHI NTT) berjalan seru. Menariknya, Paulus Nong Susar menyatakan bahwa kehadiran Walhi itu penting karena kami selalu diingatkan agar memperbaiki kebijakan-kebijakan yang ada. Beberapa kasus yang ada selalu Walhi memberi kritikan. Kita butuh itu, demikian kata mantan direktur Sanres.

Seusai diskusi panel, kembali dilanjutkan dengan agenda-agenda PDLH. Dalam sidang komisi A yang membahas tentang persoalan internal Walhi bahwa menyikapi kelesuan semangat partisipasi anggota, perlu dibentuk tim panitia ad hoc untuk memverifikasi keanggotaan agar memastikan keanggotan Walhi NTT. Selain itu, perlu dilakukan perbaikan beberapa hal penting di tingkat manajerial di eksektif daerah. Sedangkan Komisi B yang membahas tentang persoalan-persoalan lingkungan yang ada di NTT melihat bahwa perubahan iklim yang sedang terjadi ini semestinya disikapi dengan sebuah kebijakan yang berpihak pada lingkungan. Bahwa Kedaulatan pangan semestinya menjadi cita-cita bersama. Untuk itu, dibutuhkan usaha pertanian terpadu (selaras alam) dan menolak semua bentuk tindakan eksploitatif, terutama pertambangan yang ada di NTT. IUP SMR dan beberapa IUP lain di NTT, harus dicabut oleh Pemerintah karena itu tidak menguntung rakyat NTT dan lingkungan tetapi hanya menguntungkan para kapitalis.

Sebelum mengakhir acara PDLH dilakukan Debat calon Eksekutif Daerah Walhi NTT periode (2016-2020). Dari bursa pencalonan itu, terdaftar 3 calon yakni: Melky Nahar, Umbu Wulang dan Darma Yustinus. Ketiga  calon ED mempresentasikan mengenai visi-misi yang menjadi dasar untuk dilakukan setelah terpilih sebagai Eksekutif Daerah ke depan.

Dari kampanye itu, kemudian dilakukan pemilihan yang mana para peserta PDLH mengunggulkan dan kemudian menetapkan Umbu Wulang sebagai Eksekutif Daerah periode, 2016-2020. Setelah itu dilakukan acara serah terima jabatan dari Herry Naif kepada Umbu Wulang. Acara ini berjalan meriah yang dipimpin langsung oleh Longginus Don (Direketur Sanres).

Setelah acara serah-terima, Umbu Wulang eksekutif daerah terpilih memimpin diskusi para peserta PDLH bersama ketiga calon Eksekutif Nasional, Pius Ginting, Yaya Nurhidayat dan Rio Rompas. Ketiga calon Eksekutif Nasional tersebut di depan forum menyampaikan mengenai apa yang akan dilakukan ketika dirinya terpilih sebagai Eksekutif Nasional ke depan.

Minggu, 14 Februari 2016

RINTIHAN ANAK NEGERI


Herry Naif
 
Pohon dan dedaunan menghijau membentur cakrawala biru di musim berair. Langit mendesah madu memelukmu erat seakan dalam cengkraman kegersangan dihiasi menguning dan dedaunan yang berguguran di musim kering. Keelokkanmu menakjubkan. Kendati gunung batu menjulang tinggi, tanah liat menghias, rumput yang terus bergoyang ditiup angin. Ironis, dalam kegersangan engkau tetap setia sebagai ibu yang mengandung dan menyusui sejuta jemaat manusia.
Pertambangan Mangan di Supul yang diobrak-abrik
Panoramamu tak seelok yang dipuja orang. Kesuburan dan kekayaan alam tak sebanding pulau lain yang menghidupi banyak negera. Dalam keterbatasanmu tak pernah putus asa mengasihi setiap insan yang menumpahkan darahnya. Tetesan darah telah menodai dirimu seakan terberi sebuah tanggung jawab. Kau laksanakan bagai bunda pengasuh tak pernah lelah.
Kau bosan melihat anak negeri yang terus berujar. Kau memilih diam tak banyak berujar. Para pahlawan anak negeri terus merayumu, bisakah sebagian kuasa untuk mengurusmu diperolehnya?
Senyummu tak dihirauhkan. Kasihmu terabai begitu saja. Malah Isi perutmu telah dilihat. Katanya isi perutmu mau dipakai untuk mengisi perut mereka. Janjinya akan sejahtarahkan anak-anakmu. Lantas, kemudian mereka hanya mengisi pundi-pundi mereka. Mereka merayumu dengan sejuta jemaat untuk membongkarmu demi mengisi perut mereka yang penuh cacing itu. Mereka tak malu melihatmu ketika tubuhmu disobek dan dilukai. Mereka malah punya sejuta alasan bahwa ini sesuai standar hukum dan malah mereka mau menghojat para pembelamu yang setia. 
Ketika bumi memelas lemah. Bayang hutan belantara kian teriris. Badai bencana datang menerpah. Sang pahlawan terus datang menyapa dengan asa pengusir kabut menghalau kemiskinan yang hampir terus melilit insan bangsa. Prahara kemiskinan bertabur suka dalam kesejahteraan yang terus melipstiki bibir mereka. Suara anak kami butuh buat perubahan sejengkal demi menikmati hasil tipuanmu itu. Lantas anak negeri memuja-mujanya sebagai penguasa yang adil. Diapun terbuai lupa akan tangannya yang penuh dengan lumpur kejahatan lingkungan yang ia ciptakan. 
Umatmu baru sadar bahwa rasa percayanya telah dingkari. Lalu mau bagaimana? Bukankah kami salah mengandung anak negeri yang lagi bertakta dalam kemewahan penderitaan rakyat. 


Menemukan Srikandi Hijau Oekopa


Oleh: Herry Naif
Wilfrida Lalian, seorang perempuan desa yang hidup sederhana tapi gigi berjuang untuk kelestarian lingkungan. Ia tinggal di kampung Oekopa, kecamatan BIboki Tanpah, kabupaten TTU, salah satu Wilayah yang pernah mau digebuk oleh pertambangan. 
 
Wilffrida berasal dari suku Usat Nese Sonafkbat, sebuah suku yang menjadi mayoritas di Oekopa. Suku ini yang selalu menjadi pembicara adat dalam ritual-ritual adat di Oekopa selain beberapa suku seperti amfotis, Soanbubu, Suilkono. Selain itu ada suku Monemnasi, Tasi, Amteme Taekab, Amsikan, Naitsea, Leoklaran, Taslulu, Usboko, dll
Seharian ia bekerja sebagai honorer pada SMP Negeri Oekopa, selain  harus mengurus ketiga anaknya.
Tapi kesibukan ini bukannya memadamkan gelora semangat untuk mempertahankan wilayahnya dari ancaman pertambangan mangan oleh PT. Gema Energi Indonesia (GEI).  Ia mengorganisir keluarganya untuk menolak pertambangan yang ingin masuk ke Oekopa. Ia sadar bahwa ia adalah perempuan yang secara adat tidak memiliki hak warisan dalam keluarga tetapi berkewajiban mempertahankan lingkungan hidup itu penting, ujarnya. 
Naluri perjuangannya terus tumbuh dan ia harus setiap malam harus meninggalkan anak-anaknya untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya untuk mendiskusikan penolakan pertambangan yang mau masuk ke wilayahnya. Ia mengorganisir warga untuk tolak pertambangan, sampai ia pernah mau dipanggil karena menolak pertambangan. Dia tidak gentar menghadapi semua tuduhan itu. 

Kemudian, bersama para orang tua menuju kubur dan tempat sakral dari suku-suku yang ada di sana untuk menyerahkannya kepada mereka bahwa bila mereka adalah penguasa tanah Oekopa, tunjukkanlah bahwa tanah dan air harus dirawat buat anak-cucumu. Upacara ini dalam bahasa setempat di sebut "na hake neu paham ma nifu". 

Bila dilihat dari potensi wilayahnya, Oekopa diidentikan sebagai daerah yang kaya. Oekopa dikenal sebagai salah satu daerah penghasil beras karena daerah ini adalah daerah persawahan. Turun-temurun wilayah ini mengandalkan persawahan (beras) sebagai sumber hidup mereka, selain ternak

Secara administrasi-geografis, desa Oekopa terletak di Kecamatan Biboki Tanpah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mana sebelah Utara Berbatasan dengan dengan desa Tualene, Selatan dengan desa Oerinbesi, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Belu, Sebelah Barat berbatasan dengan desa Tautpah. Jumlah penduduk desa Oekopa, 1.271 jiwa (2010), 1.563 (2011). 

Dari topografinya, Oekopa memiliki kawasan hutan, kawasan resapan air (water scatchman area) bagi desa Oekopa dan lima (5) desa lainnya, seperti: Tualene, Oerinbesi, Tautpah, Taunbaen dan Biloe. Bahkan juga menjadi salah satu kawasan penyangga untuk hamparan persawahan Lurasik, Inggareo, Matamaro. Di Oekopa juga terdapat enam sumber mata air, yakni: Oetobe, Oenenas, Oecikam, oeekam, Oeoni dan Oesanlat. Keenam sumber mata air tersebut, selain digunakan untuk kebutuhan warga juga untuk mengairi persawahan Oekopa seluas 840 ha dan peternakan. Kawasan itu pun menjadi kawasan penggembalaan ternak yang mana setelah panen ternak itu akan digembalakan di wilayah persawahan tetapi ketika persawahan dikelola maka ternak akan digembalakan di wilayah yang akan dijadikan sebagai wilayah pertambangan. Desa Oekopa memiliki sapi 752 ekor. Belum terhitung binatang lainnya, seperti kerbau, kambing, babi dan lain-lain yang sedang dimiliki rakyat Oekopa.

Beberapa rangkaian kegiatan dilakukan baik oleh warga sendiri maupun beberapa kelompok yang turut terilibat sebagai ekspresi keprihatinan dan kemudian bersuara bersama mereka. Itu berarti bahwa sejak dulu kampung itu sebetulnya mendapatkan sebuah posisi secara ekonomis. 

Menariknya dalam kotbanya Pater Piter Piter Bataona, SVD (JPIC SVD Timor)  mengatakan bahwa dalam pemahaman Kristiani, Bangsa Israel melihat wilayahnya yang penuh dengan susu dan madu. Inti renungan yang disampaikan seorang pastor Katolik ketika sedang memimpin perayaan Ekaristi menyongsong upacara (nahake pao paham ma nifu). Sebuah ritual adat yang dilakuan untuk menjaga alam dan air yang dilakukan pada tanggal, 2 September 2012.
Sejak tahun 2010, diwacanakan akan adanya pertambangan mangan di desa Oekopa oleh PT. Gema Energi Indonesia (GEI). Pertemuan dilakukan sekali sebagai bentuk perkenalan perusahan dengan warga. Setelah itu, perusahaan dan pemerintah Kabaupaten TTU tidak pernah mendatangi wilayah Oekopa untuk dilakukan sosialisasi tentang adanya pertambangan tersebut.
Tahun 2012 perusahaan kembali ke Oekopa dengan mengantongi Surat Bupati TTU No. Ek.540/102/IV/2012 tentang Ijin Prinsip Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Biji Mangan kepada PT. Gema Energy Indonesia.
Ketika tahun 2012, SK Eksplorasi telah ditingkatkan menjadi IUP eksplotasi. Bermodalkan SK yang diperolehnya PT. GEI mendatangi kampung Oekopa untuk melakukan pertambangan, kami kaget kalau wilayah kami mau dikapling untuk pertambangan, demikian kenang wilfrida.
Informasi ini kemudian menjadi awal terbentuknya dua kelompok. Ada kelompok yang bersepakat dengan adanya pertambangan (Pro-tambang) dan ada kelompok lain yang menolak tambang. Keduanya yang awalnya hidup harmonis, berbasis pada kepentingan yang berbeda, interaksi sosial yang terjalin baik itu memudar. Padahal hampir semua yang tinggal di kampung itu adalah satu keturunan. Artinya bahwa kekerabatan sosial dibangun karena keturunan. Dalam berbagai urusan, kami selalu bersama-sama, demikian urai ibu Wilfrida Lalian.
Lebih lanjut, Wilfrida mengutarakan bahwa perpecahan mulai tampak. Kelompok tambang yang koordinir oleh pemimpin wilayah dengan iming-iming akan mendapatkan ganti rugi dan peningkatan kualitas hidup rakyat, dan kelompok yang melihat sawah sebagai sumber penghidupan masing-masing saling berkoordinasi.
Awal perpecahan, jumlah kelompok yang bersepakat itu menjadi mayoritas. Bahwa tanah yang masuk dalam wilayah pertambangan akan diganti rugi sebesar dua puluh juta rupiah (20.000.000) dan pohon-pohon yang telah diberi tanda pun akan diganti dengan harga yang bervariasi sesuai dengan diameter pohon. (50.000 – 250.000). Bila secara ekonomis, jumlah uang ini cukup menggiurkan bagi warga yang setahun baru mendapatkan uang.
Jumlah yang kecil itu tidak menjadi sebuah permasalahan bagi kelompok yang menolak pertambangan yang tentunya melawan kebijakan dari pemerintah wilayah kabupaten. Secara sederhana argumentasinya, bahwa: pertama, bila ditambang mereka akan menjadi apa? Kedua, Dan bila tanah ini rusak siapa yang bertanggungjawab? Demikian kata, ibu Wilfrida Lalian. 

Sejak penolakan melalui ritual adat itu, setelah itu PT. GEI pergi membawa alat operasional dan tidak kembali lagi, kami berharap tidak ada perusahaan yang datang lagi mengganggu kami di sini, demikian kata ibu tiga anak itu.

Secuil cerita bersama, Wilfrida Lalian ketika diwawancarai Arimbi Heroeputri (16 Agustus 2015) 

PEMULIAN VARIETAS PADI: KEDAULATAN PANGAN

Secara historis-kultural, padi merupakan sebuah tanaman yang diyakini sebagai dewi. Atau dalam sebutan orang sikka dua nalu pare. Legenda tentangdua nalu pare” dikisahkan bahwa pada suatu waktu terjadi kelaparan yang menimpah wilayah Sikka. Pada saat itu, semua pemuka adat dari Tana ai, Lio, Koting, Sikka, Nita, Kangae, Nuhan (Palue) berkumpul dan memperbincangkan bagaimana mengatasi permasalahan kelaparan/paceklik di wilayah tersebut. Kemudian direncanakan para tokoh adat untuk diadakan persembahan darah gadis perawan kepada leluhur. Sejak upacara saat itu, tumbuhlah dan menyebarlah padi di wilayah kabupaten Sikka. Sejak itu, diyakini bahwa padi adalah dewi yang mana akan memberi makan pada warga saat kelaparan/paceklik. Cerita ini, hingga hari ini masih diceritakan sebagai sebuah legenda padi. Dari cerita ini pula mau diinformasikan bahwa bagaimana secara sosio-kultural orang di Kabupaten Sikka menghormati tanaman padi sebagai sebuah makanan.
Secara faktual, tanaman padi hakekatnya menjadi penting bagi kehidupan manusia, menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi manusia. Tidak heran bila kemudian orang mencari cara untuk mengoptimalkan tanaman padi. Teknik budidaya yang baik dan peningkatan kemampuan berproduksi melalui usaha tani. Peningkatan kemampuan tanaman adalah usaha untuk memperbaiki karakter tanaman agar diperoleh tanaman yang lebih unggul. Usaha ini disebut pemulian tanaman.
Pemulian tanaman (plant breeding) adalah perpaduan antara seni (art) dan ilmu (science) dalam merakit karagaman genetik suatu populasi tanaman tertentu menjadi lebih baik atau unggul dari sebelumnya. Pemulian tanaman sebagai seni terletak pada kemampuan dan bakat para pemulia tanaman (plant breeder) dalam merancang dan melakukan proses seleksi (memilih) bentuk-bentuk tanaman baru yang ingin dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan selera petani dan juga sesuai dengan tantangan permasalahan yang sedang dan akan berkembang dalam kurun waktu 3-10 tahun.
Penelitian perkawinan silang benih padi varietas lokal sebagai upaya pemuliaan benih padi. Penelitian ini diawali dengan pelatihan dan diskusi mengenai perkawinan silang bersama Petani Peneliti asal Lembor, Mathias Pagang.
Mengawali kegiatan penelitian, Mathias menjelaskan mengenai proses penelitian yang akan dilakukan sejak pemilahan bibit padi yang unggul dengan mengidentifikasi varietas padi yang hendak diteliti atau dikawinkan seturut keinginan peneliti. Setiap varietas padi lokal tentunya memiliki karakter yang berbeda. Untuk itu, para peneliti harus mengidentifikasi mengenai keunggulan dan kelemahan dari padi. Setelah itu menentukan pilihan keinginan yang mau diperoleh dari hasil perkawinan tersebut. Bahwa “selama ini, petani ditindas oleh korporasi-korporasi yang mampu membayar para peneliti benih dan kemudian itu disebarkan kepada petani”.
Secara teoritis, hal ini perlu dilakukan demi proses pemulian benih padi varietas lokal, karena pada rentang waktu tertentu padi akan kembali menjadi seperti karakter varietas awal. Atau dalam ilmu pertanian dikatakan bahwa pengembangan padi pada F26, padi itu akan kembali seperti karakter awal. Untuk itu, proses pemulian melalui perkawinan silang antar varietas perlu dilakukan.
Kegiatan “Penelitian Perkawinan Benih Padi” di Jiro-Jaro, Tana Li, Desa Bhera, Kecamatan Mego (19-20 November 2015). WTM melakukan kegiatan ini berkat dukungan kerja sama dengan Miserior. Beberapa persiapan seperti; menyiapkan kerangka studi, melakukan komunikasi dan koordinasi dengan nara sumber (Mathias Pagang) dan para petani peneliti dari tiga (3) kecamatan yakni: Mego, Tanawawo dan Magepanda.
Pelaksaaan kegiatan studi ini dikoordinasikan oleh Pusat Riset dan Pengelolaan Lingkungan JIRO-JARO yang merupakan salah satu bidang penelitian dan pengembangan di Wahana Tani Mandiri. Dalam pelatihan ini, sebagai percobaan penelitian bagi peserta panitia menyiapkan padi chiheran dan Super. Dua varietas ini sengaja dipilih panitia karena yang dekat dengan puskolap Jiro-Jaro. Dari hasil percobaan penelitian tersebut, para petani peneliti mengikuti prosesnya secara detail dan serius agar kemudian bisa dipraktekan di kebunnya. Hasilnya semua padi yang dikawinkan sebagian besar membentuk bulir.
Rencananya, hasil studi Penelitian Benih Padi akan didokumentasikan sejak awal penelitian hingga sampai pada proses perkawinan benih serta bagaimana hasil penelitian tersebut, dalam bentuk buku atau film dokumenter yang akan diterbitkan oleh Wahana Tani Mandiri dan Pusat Riset dan Pengelolaan Lingkungan Jiro-Jaro, yang mana akan dimanfaatkan juga sebagai metode sharing pengalaman dan pembelajaran bagi petani lainnya.
Untuk itu, kegiatan yang diikuti oleh 6 (enam) petani peneliti dan para staf WTM. Sebelum mengakiri kegiatan tersebut, peserta membuat perencanaan bersama sebagai keberlanjutan kegiatan. Petani peneliti akan melakukannya di kebun masing-masing dengan mengidentifikasi padi varietas lokal yang ada di kampungnya. Kegiatan ini akan didampingi oleh fasilitator dan Tim WTM. Sedangkan para staf WTM pun akan melakukan penelitian di Kebun pangan Jiro – Jaro.
Setiap peneliti telah menentukan varietas padi lokal yang akan diteliti sesuai dengan keinginannya yang disebut varietas idaman. Varietas idaman adalah varietas yang diinginkan oleh petani dimana varietas ini mempunyai banyak kelebihan dan tentunya sesuai dengan daerah setempat1. Untuk mendapatkan varietas idaman kita harus menganalisa sumber bahan baku, yaitu: varietas lokal, varietas baru dan kerabat liar.

Alasan Pemilihan Peserta dan Lokasi Penelitian
Penelitian akan dilakukan petani peneliti di wilayah dampingan Wahana Tani Mandiri (WTM) yakni: Kec. Magepanda, Tanawawo dan Mego. Petani peneliti dipilih secara acak dari setiap kecamatan.
Dari perencanaan itu, kemudian kegiatan tersebut dihadiri oleh 6 petani peneliti yakni: Kanis Garu, desa Done, Magepanda, (Padi IR 64 dan Super), Beatriks Rika, desa Bhera, Mego, (Pare Kupa vs Pare Mite) Florianus Herizon Webron, Renggarasi – Tanawawo, (Pare Gama vs Pare gorotuna) Yosef Siprianus Rehing, Bu Selatan, (Pare ), Kanisius Maku (Koro Bhera) dan Agustinus Tiga, Renggarasi – Tanawawo(Pare Weteredhe vs Pare Oda). Selain itu juga para staf juga akan melakukan penelitian di Kebun contoh di Puskolap Jiro Jaro.
Tujuan Penelitian
  • Menyediakan informasi yang holistik tentang varietas padi lokal dan karakter masing-masing varietas yang diidentifikasi dan dikawinkan;
  • Menjadikan Petani sebagai peneliti dalam meningkatkan kapasitas dan penemuan varietas baru (pemulian) padi;
  • Memperdalam hasil penelitian benih demi terciptanya laboratorium padi lokal di Puskolap Jiro-Jaro
Ruang Lingkup Penelitian
  • Masalah apa saja yang dihadapi petani dalam mengembangkan benih padi lokal?
  • Mencatat setiap fase perkembangan padi agar mengetahui permasalahan agar bisa mengetahui faktor penyebab kegagalan dan keberhasilan dalam menemukan benih varietas padi lokal yang unggul
  • Bagaimana solusi atas permasalahan yang dihadapi petani dalam upaya pemenuhan bibit/benih padi
Proses dan Tahanpan Penelitian
Beberapa tahapan proses penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, diantaranya:
  1. Pemilihan bibit/benih yang mau dikawinkan
    Dalam rangka mencapai tujuan pemulian tanaman sesuai dengan varietas idaman maka peneliti perlu menyusun dan mengidentifikasi berbagai padi lokal serta membuat analisa kelebihan dan kekurangan dari varietas padi tersebut. (Lih. Tabel. 3)
Tabel 3. Analisa Kelebihan dan Kekurangan
No
Aspek
Varietas Lokal
Varietas baru
Pare Laka
Pare Menge
Pare (….)
Pare (…..)
1
Produksi Tinggi




2
Umur Pendek




3
Anakan Banyak




4
Tahan Hama




5
Rasa Nasi Enak




6
Harga Tinggi




7
Tahan Rebah




8
Rendemen




9
Warna Beras




10
Umur Genja




Jumlah




  1. Penetuan Varietas yang diteliti
    Dari hasil identifikasi tersebut, peneliti telah mengetahui kelebihan dan kekurangan dari varietas tersebut maka peneliti dapat menentukan varietas yang hendak dikawinkan/diteliti.
  2. Koleksi varietas pilihan
    Apabila peneliti belum memiliki varietas yang mau diteliti maka harus mencari pada sesama petani di kampung itu atau di kampung lainnya;
  3. Penentuan dan penyiapan Lahan/polibag
    Pada tahap ini peneliti menentukan tempat/lokasi kebun yang mau dilakukan penelitian. Kalau ada yang ingin mengembangkannya di polibag maka harus disiapkan polibagnya.
  1. Penanaman Bibit Padi
    Pada tahap ini, peneliti melakukan penanaman varietas padi yang mau diteliti atau dikawinkan dengan memperhatikan umur padi tersebut, agar waktu penyerbukan bersamaan sehingga penelitian bisa dilakukan.
  1. Perawatan Tanaman
    Pada tahap ini, peneliti hendaknya selalu merawat tanaman agar tumbuh subur dan diperoleh benih yang unggul;
  1. Pemilihan malai yang siap kawin
    Setelah padi mulai siap kawin maka perlu diseleksi malai jantan dan betina yang cocok atau siap kawin;
  1. Pengguntingan malai betina (emaskulasi)
    Emaskulasi adalah pembungan alat kelamin jantan (stamen) pada tetua betina, sebelum bunga mekar atau sebelum terjadi penyerbukan sendiri. Padi termasuk salah satu tanaman hermaprodit dan fertil.
    Apabila ada 2 varietas maka paling kurang ada 4 pohon yang siap digunting. Misalnya; Malai betina varietas A dan B. Maka varietas A dan B digunting lalu A yang digunting dikawinkan dengan malai jantan B dan sebaliknya bila B yang digunting maka malai jantan A siap dikawinkan dengan malai bentina B.
  1. Pembungkusan malai betina yang digunting
    Pembungkusan untuk malai betina yang sudah digunting/dikebiri.Pada tahap ini peneliti hanya memiliki waktu sehari untuk mengawinkan malai jantan dan betina.
  1. Perkawinan Silang antar malai yang digunting (Betina) dan Malai Jantan
    Perkawinan antara malai yang sudah digunting (betina) dengan Sari yang tidak digunting (jantan). Misalnya, varietas A dan B digunting lalu A yang digunting dikawinkan dengan malai jantan B dan sebaliknya bila B yang digunting maka malai jantan A yang dikawinkan. Ingat pada tahap ini, peneliti hanya memiliki waktu sehari saja. Bila lebih dari waktu sehari maka perkawinan tidak bisa dilangsungkan. Waktu perkawinan itu pukul 09.00 – 10.00 karen saat itu pori-pori si malai betina lagi terbuka.
    Alat dan bahan yang perlu disiapkan peneliti adalah: Gunting, Pinset/tusuk gigi, amplop, spidol, klip, label, ember, lakban
  1. Pengamatan Hasil Perkawinan Padi
    Pada tahap ini peneliti mengamati malai betina yang digunting apakah keesokan harinya setelah pengguntingan itu nampak hijau/putih. Bila hijau maka penelitian anda berhasil dan padi tersebut bisa dikawinkan. Pengamatan ini dilakukan setelah 6-7 hari perkawinan. Setelah pengamatan malai tersebut harus kembali dibungkus sampai padi tersebut menguning/dewasa.
  1. Panen Benih hasil perkawinan (F1)
    Apabila dari pengamatan dilihat bahwa padi hasil perkawinan itu sudah menguning atau siap panen maka peneliti perlu mengambilnya dan mengeringkannya pada tempat yang dapat dipantau. Setelah mengering maka disimpan sebagai benih padi (F1) siap dikembangkan.
  1. Penanaman Benih (F1)
    Penanaman benih (F1) kemudian menghasilkan F2 dan seterusnya hingga F4 akan menjadi padi yang unggul sesuai dengan karakter yang diinginkan peneliti
  1. Laboratorium Benih Padi
    Setelah panen F1, setiap peneliti hendaknya memberikan bibit ke Puskolap Jiro Jaro sebagai pusat laboratorium varietas lokal. Ini dimaksudkan sebagai kampanye atas hasil penemuan benih padi hasil penelitian para petani








1H. Masroni, Panduan SL-Pemulian Benih Tanaman Padi dan Sayuran Lokal, (Indramayu: IPPHTI)

ANGGOTA WALHI DI SIKKA LAKUKAN RAPAT PERSIAPAN PDLH WALHI NTT


Dalam rangka mempersiapkan Pertemuan Daerah Lingkungan Hidup (PDLH) ke-v, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT. Pertemuan ini adalah ritus tahunan WALHI untuk mengevaluasi kinerja periodik Eksekutif Daerah (ED) Walhi  dan  selain itu sebagai momentum politik karena juga dilakukan suksesi kepemimpinan.Rapat persiapan ini dilakukan di Kantor Wahana Tani Mandiri (WTM) (12/01).

Acara rapat persiapan yang dipimpin Herry Naif (Direktur WALHI NTT) memberi gambaran soal perkembangan konsolidiasi dengan Anggota WALHI NTT di Timor, Sumba dan Flores. Dari konsolidasi melalui telpon banyak anggota yang siap hadir sekalipun transportasi ditanggung masing-masing. Sedangakan komunikasinya dengan eksekutif Nasional, mereka meminta gambaran kongkret soal persiapan WALHI NTT dalam menyambut momentum ini, demikian putra Timor yang sedang memimpin WALHI NTT.

Lebih lanjut, Carolus Winfridus Keupung yang adalah ketua Dewan Daerah dan Direktur Wahana Tani Mandiri mengatakan bahwa penginapan PUSKOLAP Jiro Jaro itu untuk kegiatan WALHI dipakai gratis, itu kontribusi lembaga buat WALHI.

Sedangkan, yang hadir dalam pertemuan itu, Sesko Bero (PBH Nusra), Rosmistika (Sanres), Eka Rihi (Bangwita) dan Fransikus Anjelinus (YP2R) menyepakati agar setiap lembaga di Sikka menanggung konsumsi selama kegiatan berlangsung.
Menutup acara rapat ini, diucapkan terima kasih banyak atas kebersedian kawan-kawan yang selalu mendukung gerakan-gerakan WALHI baik secara moril maupun materil, demikian ujar Herry.

Kamis, 04 Februari 2016

WTM Lakukan Syukuran HUT Ke-20

Dalam memperingati Hari Ulang Tahun ke-20 Wahana Tani Mandiri (WTM), mengambil tema perayaan Berkarya, Solider dan Mandiri. Secara sederhana, tema ini adalah ekspresi pengelaman lembaga yang mana  terus berkarya dalam semangat solidaritas dalam mencapai cita-cita ke-mandiri-an.

Perayaan syukur peringatan Hari Ulang Tahun WTM yang dipimpin oleh Pater Wenseslaus Edy, Mgl. yang dihadiri oleh para Kader Tani, Utusan Kelompok Tani, para mantan staf, mitra dan para undangan lainnya. Perayaan syukur ini diselenggarakan di Puskolap Jiro Jaro, Tana Li, Mego.
Dalam renunganya, Pastor yang berordo The Gods of Love mengatakan bahwa perayaan hari ini adalah berkah bagi WTM dan bagi semua umat. Bahwa perjalanan WTM selama dua puluh tahun ini pasti memiliki sejarah yang panjang dan tentunya ada banyak pengalaman yang menggembirahkan dan bahkan ada yang memiluhkan. Tetapi semua itu hendaknya dipandang sebagai berkah Allah yang perlu disyukuri. WTM telah memilih petani sebagai sahabat, agar bagaimana bersama petani ada kebangkitan dalam memperjuangkan kehidupan lahiriah yang ramah terhadap alam dan berkelanjutan.

Direktur Wahana Tani Mandiri (Carolus Winfridus Keupung) mengatakan bahwa, sejak keberdiriannya 29 Januari 1996, WTM berkarya bersama-sama petani sebagai bagian integral dari proses pembangunan manusia seutuhnya. Prinsipnya, manusia hidup untuk memanusiakan manusia Lain" yang diimplementasikan dalam sebuah filosofi: datanglah kepada rakyat, tinggalah bersama mereka dan mulailah dari apa yang mereka punya. Pada hari yang penuh syukur ini diucapkan terima kasih kepada para petani, kader, mitra dan para donatur yang selalu siap mendukung kerja-kerja WTM.

Sedangkan, Tovik Koban (Sekretaris badan pembina) mengatakan bahwa perayaan HUT ini merupakan momentum bersejarah bagi WTM agar tidak patah semangat mengadvokasi petani baik dalam pengembangan usaha tani ataupun berbagai kegiatan lainnya. Kami dari badan pembina menitipkan pesan agar WTM terus bersemangat dalam mengadvokasi hak-hak petani, demikian ujar sang reporter TV-one wilayah Flores.

Setelah itu dilanjutkan dengan caffe WTM dengan menghadirkan para mantan staf. Hampir semua mereka memberi apreseasi kepada lembaga yang telah membesarkan dan membekali mereka sehingga mereka juga mendapatkan kesempatan berekspresi di luar WTM. Misalnya, Paskalis, Sonya, Herman Mbupu mengurai cerita tentang kisah pengalamannya ketika bersama WTM.
Setelah itu, dilakukan lounching buku "Membangun Kemandirian Petani" yang merupakan rangkuman pengalaman para fasilitator WTM sejak 20 tahun yang lalu. Bahwa penerbitan buku ini hendaknya memacu lembaga agar kemudian dalam waktu-waktu mendatang perlu menerbitkan buku-buku yang berkisah tentang petani.

Sebagai puncak perayaan dilakukan pemotongan tumpen 20 tahun WTM oleh Direktur WTM. Kemudian sebagai ungkapan kebersamaan dilakukan pembagian kepada semua mantan staf dan beberapa tokoh masyarakat yang hadir dalam acara itu.

Acara yang dilangsungkan dalam kesederhanaan tetapi sungguh bermakna dalam mengikat-eratkan persaudaan antara WTM dengan para alumni dan para petani dampingan. Perayaan HUT ini menjadi momentum refleksi kelembagaan secara internal dan eksternal. Karena tanpa itu, lembaga akan kehilangan arah dan cita-cita.